banner 468x60
Pontianak

Edi Kamtono Ajak ASN Teladani Semangat Juang Para Pahlawan

×

Edi Kamtono Ajak ASN Teladani Semangat Juang Para Pahlawan

Sebarkan artikel ini

PONTIANAK – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengajak seluruh aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota Pontianak meneladani semangat perjuangan para pahlawan yang gugur dalam tragedi pembantaian Mandor.

Menurutnya, peringatan Hari Berkabung Daerah Kalimantan Barat tidak boleh berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi harus menjadi pengingat akan nilai pengorbanan, keberanian, dan persatuan yang diwariskan para pendahulu.

Ajakan itu disampaikan Edi usai memimpin Upacara Peringatan Hari Berkabung Daerah Kalimantan Barat di halaman Kantor Wali Kota Pontianak, Senin (29/6/2026). Hari Berkabung Daerah diperingati untuk mengenang ribuan korban kekejaman pendudukan Jepang di Kalimantan Barat pada 1941–1945, termasuk para tokoh, cendekiawan, pemimpin daerah, dan masyarakat sipil yang dieksekusi dalam peristiwa Mandor.

Edi menilai masih banyak masyarakat, terutama generasi muda, yang belum memahami secara utuh sejarah kelam tersebut. Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus merawat ingatan kolektif agar pengorbanan para pahlawan tidak terlupakan.

“Masih banyak yang saya yakin belum paham dan belum mengetahui yang sebenar-benarnya peristiwa tersebut. Kita tahunya ada pembantaian di Mandor, bahkan ribuan orang,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pada masa pendudukan Jepang, banyak tokoh Kalimantan Barat ditangkap dan dibawa ke Mandor sebelum akhirnya dieksekusi.

“Banyak tokoh Kalbar, cendekiawan, pemimpin daerah ditangkap dan dibawa ke Mandor. Ada yang dipancung, ditembak, intinya dibunuh,” katanya.

Pengalaman mengunjungi kompleks makam massal di Mandor, menurut Edi, menjadi pengingat bahwa tragedi tersebut merupakan fakta sejarah yang meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat Kalimantan Barat.

“Saya tahun kemarin hadir di sana, melihat beberapa makam massal di Mandor,” ungkapnya.

Ia pun mendorong upaya lebih serius untuk menelusuri, mendokumentasikan, dan melestarikan sejarah para korban, mengingat banyak keturunan mereka masih hidup hingga kini.

“Tentu ini perlu juga kita lakukan upaya-upaya, khususnya para tokoh di Kota Pontianak. Karena anak keturunannya masih ada,” jelasnya.

Menurut Edi, organisasi perangkat daerah terkait dapat mengambil peran dalam pendataan, dokumentasi, hingga penyusunan literasi sejarah agar peristiwa tersebut tetap dikenang oleh generasi penerus.

Ia juga mengajak masyarakat membayangkan kondisi Pontianak pada awal dekade 1940-an, ketika jumlah penduduk masih sedikit dan kawasan kota belum berkembang seperti sekarang sehingga para tokoh masyarakat mudah dikenali dan menjadi sasaran penjajah.

“Kita bayangkan tahun 1941 Kota Pontianak seperti apa. Penduduknya mungkin belum sampai 100 ribu, jalan juga masih banyak jalan tanah. Jadi mencari orang waktu itu lebih mudah,” tuturnya.

Lebih jauh, Edi menegaskan bahwa semangat perjuangan para pahlawan harus diwujudkan melalui kerja nyata mengisi kemerdekaan. Menurutnya, perjuangan masa kini dilakukan dengan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat serta menyelesaikan berbagai persoalan daerah, mulai dari kemiskinan, pengangguran, pendidikan, kesehatan, hingga masalah sosial lainnya.

“Semangat para pahlawan harus menggugah hati kita untuk berpartisipasi menghadapi berbagai persoalan masyarakat,” katanya.

Di akhir sambutannya, Edi mengajak seluruh jajaran Pemerintah Kota Pontianak terus memperkuat persatuan, menjaga kebersamaan, dan bersinergi membangun daerah.

“Mari kita rapatkan barisan untuk membangun daerah, menjaga persatuan dan kesatuan, serta mendukung program pemerintah melalui sinergitas yang kuat,” pungkasnya.