PONTIANAK — Tunggal putra Indonesia Dendi Triansyah kembali menunjukkan mental tangguhnya di Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026.
Bermain di hadapan publik GOR Terpadu Ahmad Yani Pontianak, Dendi menyingkirkan wakil Malaysia Cheam June Wei pada babak perempat final, Jumat (4/9/2026).
Dendi tampil dominan dan mengakhiri pertandingan dalam dua gim langsung, 21-11, 21-10. Hasil itu mengantarkannya ke semifinal turnamen BWF World Tour Super 100 yang digelar di Kota Pontianak.
Sejak gim pertama, Dendi mampu mengontrol jalannya pertandingan. Menghadapi Cheam yang lebih senior dan memiliki pengalaman lebih banyak, pemain Indonesia tersebut memilih tidak terbawa situasi dan lebih fokus mempersiapkan mentalnya.
“Secara keseluruhan, lawan saya lebih tua, mungkin lebih senior, dan punya beberapa pengalaman yang lebih jauh dari saya. Jadi, dalam permainan tadi saya lebih menyiapkan pikiran dan mental,” ujar Dendi seusai pertandingan.
Selain mental, Dendi merasa faktor usia turut membantunya dalam menjaga stamina. Ia mampu mempertahankan intensitas permainan hingga gim kedua.
“Kalau secara stamina, mungkin saya lebih unggul karena saya lebih muda. Jadi, mungkin dari stamina saya lebih unggul,” katanya.
Dominasi Dendi semakin terlihat pada gim kedua. Ia terus menjaga jarak poin sebelum akhirnya menutup pertandingan dengan keunggulan 21-10.
Atmosfer GOR Terpadu Ahmad Yani juga menjadi salah satu faktor yang membuat pertandingan semakin menarik. Dukungan penonton tuan rumah terdengar sepanjang laga. Dendi bahkan melihat lawannya sempat kesulitan menghadapi riuh suporter.
“Mungkin kalau saya lihat tadi, lawan saya terpengaruh sama suara penonton. Dia seperti pegang-pegang telinga, kemudian sudah melihat pelatihnya. Mungkin dia sudah bingung, jadi banyak melakukan unforced error,” ungkapnya.
Meski mengakui dukungan penonton membantu, Dendi tidak ingin menjadikan atmosfer pertandingan sebagai alasan utama kemenangan. Baginya, kepercayaan terhadap kemampuan sendiri dan hasil latihan menjadi modal paling penting.
“Mungkin percaya sama diri sendiri, sama kemampuan diri sendiri, dan hasil latihan saja,” tegas Dendi.
Dendi juga sudah menyiapkan strategi khusus untuk meredam permainan Cheam, terutama ketika pemain Malaysia itu mendapatkan kesempatan membangun serangan.
Ia berusaha tidak memberikan bola-bola mudah yang bisa dimanfaatkan lawan untuk menyerang.
“Kalau secara spesifik, mungkin saya tidak boleh gampang memberikan bola untuk serangan, karena serangannya dia lumayan bagus,” jelasnya.
Strategi itu berjalan efektif. Dendi mampu menjaga tekanan sekaligus memanfaatkan sejumlah kesalahan yang dilakukan Cheam sepanjang pertandingan.
Kemenangan tersebut menjadi momentum penting bagi Dendi setelah sebelumnya meraih hasil kurang maksimal pada Polytron Pontianak International Challenge 2026, yang digelar sepekan sebelumnya.
Kini, ia justru mampu melangkah lebih jauh di ajang dengan level lebih tinggi, BWF World Tour Super 100.
“Di tahun ini saya sangat bersyukur. Kemarin di International Challenge hasilnya kurang bagus, dan sekarang saya bisa memberikan yang terbaik di sini,” tutur Dendi.
Namun, perjalanan Dendi belum selesai. Tiket semifinal belum membuatnya puas. Ia ingin melangkah lebih jauh dan memburu gelar juara di hadapan publik Pontianak.
“Saya belum merasa puas sampai di semifinal. Saya ingin bisa juara di Indonesia Masters,” tegas Dendi.

















