banner 468x60
INFO PEMPROV KALBAR

Norsan Apresiasi Dukungan Pusat, Karhutla Kalbar Mulai Terkendali

×

Norsan Apresiasi Dukungan Pusat, Karhutla Kalbar Mulai Terkendali

Sebarkan artikel ini

KUBU RAYA — Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat mulai menunjukkan perkembangan positif. Dari sekitar 38.000 hektare area yang sebelumnya terdampak kebakaran, kini tersisa sekitar 200 hektare lebih yang masih dalam proses penanganan.

Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan mengatakan, penurunan juga terlihat dari jumlah titik panas yang terpantau di sejumlah wilayah.

Hal tersebut disampaikan Norsan saat mendampingi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto melakukan patroli dan meninjau lokasi karhutla di Dusun Sukadamai, Desa Rasau Jaya Tiga, Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, Sabtu (5/9/2026).

“Dari sekitar 38.000 hektare yang terbakar, sekarang tinggal sekitar 200 hektare lebih lagi yang masih ditangani. Titik api juga sudah mulai menurun dari sekitar 2.000 titik, kemudian menjadi 100 lebih, dan sekarang tinggal sekitar 50 titik api,” ujar Norsan.

Menurut dia, penurunan tersebut tidak terlepas dari kerja bersama seluruh unsur yang tergabung dalam Satgas Karhutla. TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, pemerintah daerah hingga unsur lainnya terus melakukan pemadaman dan patroli di wilayah terdampak.

Kondisi cuaca yang mulai diguyur hujan dalam beberapa hari terakhir juga turut membantu upaya pemadaman di sejumlah lokasi.

“Alhamdulillah seluruh stakeholder, TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD daerah maupun pusat berkolaborasi semuanya turun untuk memadamkan api,” katanya.

Norsan secara khusus menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat yang memberikan dukungan dalam penanganan karhutla di Kalbar. Menurutnya, kehadiran langsung jajaran pemerintah pusat menunjukkan perhatian terhadap kondisi kebakaran yang terjadi di daerah.

“Atas nama Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dan masyarakat Kalbar, kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah pusat, Bapak Presiden, Menteri Dalam Negeri, dan Kepala BNPB yang sudah hadir langsung melihat situasi dan kondisi kebakaran hutan di Kalimantan Barat,” tuturnya.

Di sisi lain, Kepala BNPB Suharyanto mengingatkan bahwa turunnya jumlah titik api belum berarti persoalan karhutla sepenuhnya selesai. Tantangan terbesar saat ini adalah memastikan bara di lahan gambut benar-benar padam hingga ke lapisan bawah.

Suharyanto mencontohkan kebakaran di Dusun Sukadamai yang hanya mencakup sekitar tujuh hektare. Namun, proses pemadamannya membutuhkan waktu hingga enam hari karena karakteristik lahan gambut.

“Sudah enam hari ini terbakar. Luasnya tidak banyak, tujuh hektare. Tetapi karena lahan gambut, selama enam hari itu baru berhasil enam hektare. Berarti satu hari hanya satu hektare. Saking sulitnya dipadamkan,” kata Suharyanto.

Menurut dia, kebakaran di lahan gambut berbeda dengan kebakaran di lahan biasa. Api bisa saja tidak lagi terlihat di permukaan, tetapi bara tetap menyala di bawah tanah dan menghasilkan asap.

“Sekarang yang jadi masalah bukan lagi apinya. Di banyak tempat apinya sudah tidak terlihat, tetapi asapnya masih ada. Karena lahan gambut, harus dipastikan benar-benar padam,” ujarnya.

Untuk memadamkan bara di bawah permukaan, tim gabungan menerapkan sejumlah metode, salah satunya dengan menyuntikkan air ke lapisan gambut menggunakan pipa khusus. Cara tersebut dilakukan agar air dapat menjangkau sumber bara yang berada di bawah tanah.

Suharyanto juga mengapresiasi kekompakan Satgas Karhutla Kalbar dalam menekan penyebaran kebakaran.

“Saya bangga melihat satgas darat di tempat ini. Pak Gubernur turun langsung, Pak Pangdam turun langsung. Ada Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, BPBD, Dinas Kehutanan, KPH, TNI dan Polri. Semua bahu-membahu melakukan pemadaman,” katanya.

Meski kondisi karhutla mulai membaik, operasi pemadaman dan patroli tetap dilanjutkan. Pemerintah memastikan seluruh titik api terus dipantau untuk mencegah bara kembali menyala dan memicu kebakaran baru, terutama di kawasan lahan gambut.