banner 468x60
Info Pertamina

Dari Limbah Menjadi Berkah: Pertamina Dorong Ekonomi Hijau dan Kemandirian Warga Pontianak

×

Dari Limbah Menjadi Berkah: Pertamina Dorong Ekonomi Hijau dan Kemandirian Warga Pontianak

Sebarkan artikel ini

PONTIANAK – Sampah yang biasanya berakhir di tempat pembuangan, kotoran ternak yang kerap dianggap tak berguna, hingga sisa panen yang berpotensi dibakar, kini menjadi sumber penghidupan bagi warga Pontianak.

Di tangan Komunitas Kreasi Sungai Putat (KSP), Kelurahan Siantan Hulu, Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) keterbatasan lahan bukan penghalang untuk membangun usaha produktif.

Pekarangan rumah disulap menjadi kawasan budidaya terpadu yang menggabungkan peternakan puyuh, perikanan, tanaman hortikultura, dan pengolahan sampah organik menggunakan maggot.

Melalui program Lini Masa (Limbah untuk Masa Depan), Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan turut memperkuat inisiatif tersebut.

Dukungan sarana produksi dan infrastruktur diharapkan membuat usaha warga semakin berkembang, sekaligus menghadirkan solusi atas persoalan sampah perkotaan.

Di kawasan budidaya itu, setiap unsur memiliki peran. Kotoran puyuh dan sampah organik diolah menjadi media budidaya maggot. Maggot kemudian dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan ikan, sedangkan air kolam digunakan untuk menyiram tanaman.

Siklus tersebut membentuk ekosistem ekonomi sirkular. Limbah yang semula menjadi persoalan lingkungan diolah kembali menjadi sumber daya yang bernilai ekonomi.

Ketua KSP, Syamhudin, mengatakan dukungan Pertamina memperkuat upaya komunitas dalam mengembangkan ekonomi hijau berbasis potensi lokal.

Salah satu kegiatan yang kini dikembangkan adalah budidaya burung puyuh. KSP memperoleh bantuan bibit puyuh, kandang, kolam terpal, pakan, serta sejumlah sarana pendukung.

Hasil usaha tidak seluruhnya dibagikan kepada anggota. Sebagian disisihkan untuk memperkuat modal dan memastikan kegiatan kelompok dapat terus berjalan.

“Untuk pengembangan dan penguatan aktivitasnya, hampir 50 persen hasil dari puyuh kita sisihkan. Jadi, 50 persen hasilnya untuk kawan-kawan yang di sini,” kata Syamhudin, belum lama ini.

Baginya, konsep yang dikembangkan bukan sekadar beternak atau bercocok tanam. Setiap kegiatan dirancang saling mendukung agar biaya produksi bisa ditekan dan manfaat ekonomi semakin besar.

“Pupuknya kita tidak perlu beli lagi. Sumbernya dari kotoran puyuh yang kita olah. Kemudian air ikan di kolam juga kita manfaatkan untuk menyiram tanaman. Jadi, kita upayakan tidak menggunakan pupuk kimia,” ujarnya.

Selain puyuh, KSP mengembangkan budidaya ikan gurami dan berencana memperluas penanaman tanaman hortikultura, seperti tomat, cabai, dan pare.

Syamhudin memperkirakan, jika seluruh komponen usaha berjalan optimal, kawasan budidaya di pekarangan yang relatif terbatas itu berpotensi menghasilkan pendapatan Rp9 juta hingga Rp12 juta per bulan.

Angka tersebut menjadi gambaran potensi yang ingin dicapai melalui integrasi berbagai usaha produktif, bukan semata-mata mengandalkan satu komoditas.

“Harus ada contoh bahwa halaman sekecil ini bisa menghasilkan. Jadi, untuk mendapatkan penghasilan, kita tidak harus membuka kebun sawit sampai dua hektare. Ini juga bagian dari upaya kita menunjukkan bahwa ekonomi masyarakat bisa tumbuh tanpa merusak lingkungan,” katanya.

Ketahanan Pangan Dimulai dari Pekarangan

Pemanfaatan pekarangan menjadi salah satu cara memperkuat ketahanan pangan dari lingkungan terkecil, yakni keluarga.

Lahan di sekitar rumah dapat digunakan untuk menanam sayuran, membudidayakan ikan, hingga mengembangkan peternakan skala rumah tangga. Selain membantu memenuhi kebutuhan pangan, kegiatan tersebut berpotensi menambah pendapatan keluarga.

Lurah Siantan Hilir, Erin Febrianty, menilai KSP konsisten menghadirkan inovasi dengan memanfaatkan potensi dan keterbatasan masyarakat.

Menurutnya, komunitas tersebut terbiasa mencoba berbagai kegiatan yang relevan dengan kebutuhan lingkungan. Salah satunya budidaya maggot, yang telah mereka rintis ketika praktik tersebut belum banyak dikenal di Pontianak.

“Kalau KSP itu sudah lama. Mereka sering mengembangkan hal-hal yang sedang tren atau memang dibutuhkan masyarakat. Contohnya ulat maggot, waktu itu di Pontianak belum tren, mereka sudah memulainya. Bisa dibilang mereka menjadi trendsetter,” ungkap Erin.

Kreativitas KSP juga merambah bidang lain, termasuk batik tulis. Produk yang dikembangkan komunitas itu kemudian mendapatkan pendampingan dari Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) hingga tingkat kota.

Kini, perhatian mereka diarahkan pada optimalisasi pekarangan rumah, termasuk rencana pengembangan hidroponik dan budidaya tanaman pangan.

“Mereka tidak terpaku pada satu hal. Sekarang bagaimana memanfaatkan pekarangan rumah, nanti mau mengembangkan hidroponik, sekarang sudah ada burung puyuh. Mereka selalu mencoba berkreasi dengan apa yang dimiliki, meskipun dengan keterbatasan,” kata Erin.

Ia berharap Syamhudin dan anggota KSP terus menjadi inspirasi bagi masyarakat lainnya. Menurutnya, figur penggerak yang mampu mengubah gagasan menjadi kegiatan produktif merupakan aset penting bagi lingkungan.

Erin juga mengapresiasi dukungan Pertamina terhadap pengembangan kelompok masyarakat di wilayah Siantan Hilir melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan.

Berawal dari Sembilan Orang, Kini Kelola Dua Ton Sampah

Perjalanan KSP bermula dari persoalan lingkungan yang sederhana: Parit Sungai Putat dipenuhi sampah pada 2011.

Syamhudin bersama delapan warga lainnya kemudian berinisiatif membersihkan parit secara bergotong royong setiap dua minggu sekali.

Namun, mereka menyadari bahwa membersihkan parit saja tidak cukup. Selama kebiasaan membuang sampah sembarangan belum berubah, persoalan yang sama akan terus berulang.

Dari situ, KSP mulai memperluas gerakan dengan mengajak warga mengenali sejarah kampung, memahami persoalan lingkungan, dan membangun cita-cita bersama.

Perlahan, gerakan sembilan orang itu berkembang menjadi berbagai kegiatan pemberdayaan berbasis lingkungan.

KSP membangun sejumlah unit usaha, mulai dari Pekarangan yang berfokus pada pengolahan sampah organik melalui budidaya maggot, Bangsa Mata atau Bank Sampah Permata untuk pengelolaan sampah anorganik, hingga Kepsang 26 yang bergerak di bidang kuliner dan camilan.

Unit Pekarangan pernah melibatkan 17 orang dalam budidaya maggot dengan produksi mencapai 100 hingga 200 kilogram per hari.

Sementara itu, Bangsa Mata kini mampu mengelola sekitar dua ton sampah terpilah setiap hari dengan melibatkan 18 pekerja.

Layanan pengangkutan sampah yang awalnya menjangkau sekitar 20 rumah menggunakan kendaraan roda tiga pinjaman, kini berkembang hingga melayani sekitar 800 rumah.

Perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana persoalan sampah dapat menjadi pintu masuk bagi pemberdayaan masyarakat. Bukan hanya mengurangi beban lingkungan, pengelolaannya juga membuka lapangan kerja dan menciptakan sumber penghasilan.

Pertamina Perkuat Ekonomi Sirkular Berbasis Masyarakat

Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, Edi Mangun, mengatakan program Lini Masa dirancang untuk menjawab tantangan pengelolaan sampah organik rumah tangga, yang menjadi salah satu sumber beban tempat pemrosesan akhir (TPA) Kota Pontianak.

Bersama KSP, Pertamina mendorong pengelolaan sampah terpadu yang terhubung dengan pemanfaatan pekarangan agar lebih produktif dan bernilai ekonomi.

Melalui inisiatif tersebut, hingga 50 kilogram sampah organik masyarakat dapat diolah setiap hari. Sampah dimanfaatkan untuk budidaya maggot, yang selanjutnya mendukung kebutuhan pakan puyuh, ikan, dan lobster air tawar.

Dukungan Pertamina mencakup penataan ruang budidaya, sarana dan infrastruktur, bantuan 600 ekor bibit puyuh beserta kandangnya, serta fasilitas edukasi masyarakat.

Hasilnya, kelompok tersebut mampu memproduksi sekitar 600 butir telur puyuh setiap hari. Selain itu, panen ikan dilakukan secara berkala setiap tiga bulan, sedangkan lobster air tawar dipanen setiap enam bulan.

“Program ini merupakan bagian dari komitmen Pertamina Patra Niaga untuk mendorong kemandirian masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan,” ujar Edi.

Menurutnya, pengelolaan sampah tidak cukup hanya berorientasi pada pengurangan limbah. Perlu ada upaya untuk menciptakan nilai tambah yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Melalui Lini Masa, Pertamina ingin memperkuat ekosistem usaha yang mampu berjalan secara berkelanjutan, sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan dan perekonomian warga.

Limbah Pertanian Jadi Sumber Penghasilan Perempuan

Semangat mengubah limbah menjadi sumber penghidupan juga tumbuh melalui program Berdaya Bersama Pertamina yang dijalankan Pertamina Aviation Fuel Terminal (AFT) Supadio.

Program ini menyasar pemberdayaan perempuan di Kampung Gambut Siantan, yang dikenal dengan sebutan Kuat Sihir. Inisiatif tersebut merupakan bagian dari gagasan pemberdayaan masyarakat KSP, dengan kegiatan ekonomi warga di RW 33 dihimpun melalui Badan Usaha Milik RW 33 atau BUM RW 33.

Di kawasan tersebut, ratusan petani mengelola lahan gambut untuk menanam berbagai jenis tanaman. Aktivitas pertanian menghasilkan limbah, termasuk sisa panen rumput mendong, yang selama ini berpotensi terbuang atau dibakar jika tidak dimanfaatkan.

Di sisi lain, terdapat kelompok perempuan rawan sosial ekonomi (PRSE) yang membutuhkan alternatif mata pencaharian. Di antaranya, 10 perempuan mantan pekerja pabrik kayu yang kehilangan sumber penghasilan setelah tempat mereka bekerja tidak lagi beroperasi.

Pertamina berupaya mempertemukan dua persoalan itu melalui pemberdayaan ekonomi berbasis pemanfaatan limbah pertanian.

Lewat pendampingan, pelatihan keterampilan, serta dukungan sarana dan prasarana produksi, limbah rumput mendong diolah menjadi berbagai produk kerajinan bernilai jual.

Dalam kurun waktu tiga bulan, sebanyak 320 kilogram limbah rumput mendong berhasil dimanfaatkan menjadi produk kerajinan oleh 10 perempuan PRSE.

Dari penjualan produk tersebut, kelompok mampu menghasilkan pendapatan yang dilaporkan mencapai Rp12.330.000 per bulan.

Inisiatif ini menunjukkan bahwa limbah pertanian bukan sekadar sisa produksi. Dengan keterampilan, pendampingan, dan akses terhadap kegiatan usaha, bahan yang sebelumnya kurang bernilai dapat menjadi sumber penghasilan baru bagi perempuan.

Pemanfaatan limbah juga berpotensi mengurangi praktik pembuangan dan pembakaran sisa pertanian yang dapat mencemari lingkungan serta meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.

Pada akhirnya, ekonomi hijau bukan hanya tentang mengurangi sampah atau menjaga kelestarian lingkungan. Lebih dari itu, ekonomi hijau berbicara tentang kemampuan masyarakat menciptakan nilai dari sumber daya yang tersedia, membuka peluang kerja, dan membangun kemandirian.

Dari pekarangan rumah hingga hamparan lahan gambut, upaya warga Pontianak menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari hal sederhana. Ketika limbah dikelola secara kreatif dan didukung kolaborasi yang tepat, persoalan lingkungan pun berpeluang berubah menjadi berkah ekonomi.