Aksaraloka.com, PONTIANAK – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Barat terus berkomitmen memperkuat identitas kedaerahan melalui sektor pendidikan.
Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalbar, Sy Faisal Indahmawan Alkadri, menekankan bahwa pemahaman kebudayaan di tingkat pelajar bukan sekadar pelengkap kurikulum, melainkan fondasi utama dalam pembentukan karakter, 24 Maret 2026.
Faisal menyampaikan bahwa di tengah gempuran modernisasi dan budaya luar, para pelajar di Kalimantan Barat harus memiliki “tameng” berupa kecintaan terhadap nilai-nilai luhur lokal.
Menurut Faisal, Kalimantan Barat memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam, mulai dari adat istiadat, kesenian, hingga kearifan lokal yang unik. Hal ini harus diperkenalkan secara masif dan kreatif kepada siswa di tingkat SMA/SMK maupun SLB.
“Kebudayaan bukan hanya soal masa lalu, tapi soal bagaimana kita bersikap di masa depan. Kita ingin para pelajar di Kalbar tidak kehilangan jati dirinya. Mereka boleh maju secara teknologi, tapi hati dan pikirannya tetap berpijak pada nilai budaya lokal kita,” ujar Sy Faisal Indahmawan Alkadri.
Dalam arahannya, Faisal meminta seluruh kepala sekolah dan guru di Kalimantan Barat untuk lebih inovatif dalam mengintegrasikan unsur kebudayaan ke dalam kegiatan belajar mengajar. Ia memberikan beberapa poin penekanan yakni, mendorong sekolah menghidupkan kembali sanggar seni, musik tradisional, dan permainan rakyat.
Memastikan materi kebudayaan daerah disampaikan dengan cara yang relevan dan menarik bagi generasi Z. Menyarankan sekolah untuk sesekali mengundang tokoh adat atau budayawan untuk berbagi pengalaman langsung kepada siswa.
Faisal berharap, melalui penguatan pemahaman budaya ini, akan lahir generasi emas Kalimantan Barat yang toleran, menghargai keberagaman, dan bangga akan warisan leluhurnya.
“Harapan kita, para pelajar ini nantinya menjadi duta budaya. Mereka yang akan memperkenalkan keindahan Kalimantan Barat ke mata dunia. Dengan memahami budaya sendiri, otomatis rasa toleransi antar sesama di Kalimantan Barat yang heterogen ini akan semakin kuat,” pungkasnya.
Penekanan ini diharapkan dapat menjadi stimulan bagi seluruh stakeholder pendidikan di 14 kabupaten/kota se-Kalbar untuk menjadikan kebudayaan sebagai napas dalam setiap aktivitas di lingkungan sekolah.

















