banner 468x60
Aksara Landak

Bupati Karolin Turun ke Lokasi Karhutla di Dusun Pampang, Api Diperkirakan Melahap 50 Hektar Lahan

×

Bupati Karolin Turun ke Lokasi Karhutla di Dusun Pampang, Api Diperkirakan Melahap 50 Hektar Lahan

Sebarkan artikel ini

LANDAK – Asap tebal membumbung dari kawasan perbukitan di Dusun Pampang, Desa Sidas, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, Selasa (1/9/2026) sore.

Di tengah medan yang sulit dijangkau dan sumber air yang terbatas, upaya pemadaman kebakaran lahan terus dilakukan untuk mencegah api merambat hingga dekat ke permukiman warga.

Bupati Landak Karolin Margret Natasa turun langsung ke lokasi bersama jajaran pemerintah daerah, TNI, Polri, dan sejumlah instansi terkait untuk melihat kondisi kebakaran sekaligus mengoordinasikan langkah penanganan di lapangan.

Peninjauan tersebut turut dihadiri Dandim 1210/Landak, Kapolres Landak, anggota DPRD Landak Ropina Herdianti, Kepala BPBD Landak, Camat Sengah Temila, perwakilan UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah Landak, Manggala Agni, perangkat desa, serta masyarakat.

Setibanya di lokasi, Karolin tidak hanya memantau titik kebakaran dari kejauhan.

Ia meninjau sumber air yang tersedia hingga menyusuri lokasi lahan yang terbakar untuk mengetahui langsung tantangan yang dihadapi petugas dan mengkoordinasikan bagaimana langkah-langkah penanganan yang perlu dilakukan.

Diperkirakan capai 50 hektar

Karolin mengatakan, berdasarkan kondisi sementara di lapangan, luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 50 hektar.

Namun, penanganan kebakaran tersebut tidak mudah. Selain lokasi yang cukup jauh, kondisi kebakaran juga berada di kawasan berbukit yang sulit dijangkau secara langsung.

“Sementara diperkirakan 50 hektar. Masyarakat juga turun membantu. Kita banyak dibantu oleh masyarakat sejak tadi malam karena memang lokasi apinya dekat dengan perkampungan,” kata Karolin di lokasi.

Ia mengatakan, tambahan peralatan dan personel diharapkan dapat membuat situasi kebakaran lebih terkendali.

Menurut Karolin, upaya pemadaman langsung ke pusat api saat ini memiliki keterbatasan karena kondisi medan.

Karena itu, strategi yang dilakukan adalah menyekat penyebaran api pada sejumlah titik yang dinilai rawan.

“Sekarang untuk memadamkan api langsung ke titiknya sudah tidak memungkinkan. Jadi kita menyekat penyebarannya dengan beberapa titik yang sudah kita tentukan untuk mencegah penyebaran api,” ujarnya.

Karolin juga berharap hujan dapat segera turun dan membantu proses penanganan kebakaran.

“Sambil kita melihat perkembangan situasi, mudah-mudahan hujan. Mohon doanya, semoga hujan turun. Kalau hujan turun, situasinya bisa lebih aman,” katanya.

Api muncul dari kawasan hutan
Berdasarkan informasi awal yang diterima di lapangan, masyarakat mengaku tidak mengetahui secara pasti awal munculnya api.

Menurutnya warga disebut tidak melihat adanya aktivitas pembakaran lahan maupun kegiatan berladang sebelum api muncul.

Api justru diduga berasal dari kawasan di bagian belakang hutan yang belum dimanfaatkan sebagai perkebunan.

Karolin mengatakan, pihaknya masih akan melakukan pengecekan lebih lanjut, termasuk mengambil titik koordinat untuk memastikan lokasi awal kebakaran dan status lahan yang terbakar.

Di sekitar kawasan tersebut terdapat lahan Hak Guna Usaha (HGU) yang diketahui sebelumnya dikelola PT IGP.

Namun, perusahaan tersebut telah dinyatakan pailit dan tidak lagi menjalankan operasional.

“Kalau yang sini areal HGU terlantar milik PT IGP, yang sudah dinyatakan pailit dan sudah tidak ada operasional lagi. Tapi sumber apinya berasal dari sana, nanti dicek kembali. Kami mau ambil titik koordinat dulu,” ujar Karolin.

Pengecekan tersebut penting dilakukan untuk mengetahui secara pasti titik awal kebakaran dan status kawasan yang terdampak.

Jalan rusak dan air menjadi persoalan utama

Selain menghadapi kobaran api, tim di lapangan juga harus berhadapan dengan persoalan akses menuju lokasi.

Jalan menuju kawasan kebakaran sulit dilalui kendaraan karena tidak lagi mendapatkan perawatan.

Menurut Karolin, kondisi tersebut berkaitan dengan tidak beroperasinya lagi perusahaan yang sebelumnya mengelola kawasan tersebut.

“Tak ada jalan, karena ini PT yang sudah bangkrut, jadi jalanannya sudah tidak pernah dirawat. Perusahaannya sudah tidak ada, orang-orangnya sudah pergi,” kata Karolin.

Keterbatasan akses membuat mobilisasi peralatan pemadam menjadi lebih sulit.
Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah ketersediaan air.

Sumber air berada cukup jauh dari lokasi kebakaran sehingga petugas harus memikirkan berbagai alternatif untuk mendukung proses pemadaman.

“Mesin sih aman, Polres juga masih ada cadangan empat. Masalahnya air,” ujar Karolin.

Pemerintah Kabupaten Landak pun menyiapkan langkah untuk menambah kebutuhan peralatan di lokasi.

Karolin menyebut, pihaknya akan menyediakan tandon air dan menambah selang untuk mendukung kerja petugas dan masyarakat.

Sejumlah selang yang tersedia juga dilaporkan sudah mengalami kerusakan dan kebocoran.

“Saya mau beli tandon air dulu sama selang karena selang kita kurang dan banyak yang sudah bocor, jadi saya mau beli supaya bisa kita kirim ke sini,” katanya.

Pertimbangkan water bombing

Pemerintah Kabupaten Landak juga berupaya berkoordinasi dengan pemerintah provinsi terkait kemungkinan bantuan pemadaman dari udara melalui water bombing.

Namun, kondisi asap tebal dan jarak pandang yang terbatas menjadi salah satu kendala.

Karolin mengatakan, keselamatan penerbang tetap menjadi pertimbangan utama dalam pelaksanaan pemadaman dari udara.

“Kita akan coba hubungi provinsi untuk minta water bombing, tapi sementara jawaban dari provinsi, jarak pandang terlalu pendek,” ujarnya.

Menurut dia, pesawat tidak dapat dipaksakan terbang apabila kondisi jarak pandang dinilai membahayakan keselamatan.

“Keselamatan pilotnya juga harus kita perhatikan. Kalau asap terlalu tebal, mereka tidak berani terbang karena tidak kelihatan,” kata Karolin.

Prioritas: Jangan sampai api mencapai kampung

Di tengah berbagai keterbatasan tersebut, pemerintah daerah bersama TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, dan masyarakat memusatkan perhatian untuk mencegah api menjalar ke kawasan permukiman.

Dusun Pampang menjadi salah satu wilayah yang berada tidak jauh dari kawasan kebakaran.

Selain itu, terdapat sejumlah perkampungan lain di sekitar lokasi yang juga perlu diantisipasi, termasuk wilayah Sairi Bagan dan Kampung Jering.

“Kita jaga supaya jangan sampai ke kampung. Jadi nanti kita lakukan penyekatan karena di sini ada kampung, ada Pampang, sebelah sana ada Bagan dan Kampung Jering,” ujar Karolin.

Masyarakat di sekitar lokasi juga diminta untuk terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan api.

Apabila api mulai mendekati kawasan permukiman, seluruh sumber daya akan dikerahkan untuk melindungi warga.

“Untuk sementara saya kasih tahu orang kampung untuk jaga dan monitor. Kalau mendekati kampung, kita all out,” tegasnya.

Dalam peninjauan tersebut, Karolin juga memastikan kebutuhan dasar para petugas dan warga yang berjaga di sekitar lokasi kebakaran tetap terpenuhi.

Logistik berupa makanan, air minum, serta masker disiapkan untuk mendukung personel dan masyarakat yang terlibat dalam upaya penanganan kebakaran.

Penanganan kebakaran di Dusun Pampang kini tidak hanya bergantung pada upaya pemadaman langsung.

Dengan medan yang sulit, keterbatasan air, akses jalan yang rusak, serta kondisi asap yang menghambat kemungkinan pemadaman dari udara, strategi penyekatan menjadi salah satu langkah utama untuk menahan laju api.

Di tengah kepulan asap yang terus terlihat dari kawasan perbukitan, seluruh pihak masih berpacu dengan waktu.

Tujuannya satu: memastikan api tidak terus meluas dan, yang paling utama, tidak mencapai permukiman warga.