PONTIANAK – Ancaman intrusi air laut yang berpotensi mengganggu kualitas air baku mendorong Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak mengusulkan pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Regional di kawasan yang lebih ke arah hulu.
Infrastruktur tersebut diharapkan menjadi solusi jangka panjang untuk menjaga keberlanjutan pasokan air minum bagi masyarakat Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya, terutama ketika sumber air baku utama terdampak perubahan kondisi lingkungan.
Direktur Pelayanan Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa, Muhammad Zulhiyardi, mengatakan persoalan ancaman intrusi air laut tidak bisa ditangani perusahaan secara mandiri. Diperlukan dukungan dan kolaborasi pemerintah daerah hingga pemerintah pusat.
“PDAM tidak bisa menyelesaikan persoalan ini sendiri. Diperlukan kolaborasi antara PDAM dengan pemerintah provinsi hingga pemerintah pusat. Kita mendorong pembangunan SPAM Regional dengan harapan lokasinya berada lebih ke arah hulu untuk mengantisipasi intrusi air laut,” kata Zulhiyardi saat menerima kunjungan pers di Kantor Perumda Tirta Khatulistiwa, Kamis (5/11/2026).
Hingga kini, lokasi pembangunan SPAM Regional tersebut belum ditetapkan. Perusahaan berharap rencana itu segera ditindaklanjuti melalui koordinasi lintas pemerintahan.
Di sisi lain, pemerataan akses air minum perpipaan juga masih menjadi tantangan. Zulhiyardi menyebutkan cakupan pelayanan Perumda Tirta Khatulistiwa telah mencapai sekitar 94 persen penduduk Kota Pontianak. Sementara 6 persen lainnya belum terjangkau layanan, terutama masyarakat yang bermukim di kawasan pesisir Sungai Kapuas.
Sebagian warga di kawasan tersebut masih mengandalkan air sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena itu, perusahaan berupaya mendorong perluasan layanan sekaligus mengedukasi masyarakat agar beralih menggunakan air minum perpipaan.
“Pekerjaan rumah kita adalah bagaimana mengedukasi masyarakat yang belum terlayani, terutama di kawasan pesisir Sungai Kapuas. Sungai masih menjadi sumber air bagi sebagian masyarakat. Kita perlu mendorong mereka agar dapat memanfaatkan layanan PDAM,” ujarnya.
Namun, perluasan akses tidak hanya terkendala ketersediaan jaringan perpipaan. Kemampuan ekonomi masyarakat, khususnya kelompok berpenghasilan rendah, juga menjadi persoalan karena biaya pemasangan sambungan rumah baru belum tentu terjangkau.
Untuk itu, dukungan pemerintah dinilai penting agar masyarakat dengan keterbatasan ekonomi tetap memiliki kesempatan memperoleh akses air minum yang layak.
Selain memperkuat sumber air baku melalui rencana SPAM Regional, perusahaan juga melakukan pembenahan infrastruktur pengolahan dan distribusi air.
Salah satu prioritasnya adalah Instalasi Pengolahan Air (IPA) Selat Panjang di Kecamatan Pontianak Utara. Pembenahan fasilitas tersebut menjadi bagian dari rencana bisnis perusahaan untuk meningkatkan pemerataan tekanan air di seluruh kecamatan.
Zulhiyardi berharap optimalisasi IPA Selat Panjang dapat mengatasi sejumlah kendala pelayanan yang selama ini dikeluhkan pelanggan di wilayah Pontianak Utara.
“Fokus kita kali ini di IPA Selat Panjang, Kecamatan Pontianak Utara. Semoga upaya ini dapat menyelesaikan berbagai kendala pelayanan yang terjadi di wilayah tersebut,” katanya.
Ia menegaskan, peningkatan pelayanan air minum harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari penguatan sumber air baku, optimalisasi instalasi pengolahan, hingga pembenahan jaringan distribusi.
Dengan demikian, pembangunan SPAM Regional, perluasan sambungan rumah, dan peningkatan keandalan infrastruktur menjadi langkah penting untuk menjaga ketahanan serta pemerataan layanan air minum di Kota Pontianak.

















