PONTIANAK – Air mata haru tak mampu disembunyikan Rudiansyah (52), buruh lepas asal Sungai Jawi, Kota Pontianak, saat mengantar tiga anaknya mengikuti hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Terintegrasi II Pontianak, Kamis (30/7/2026).
Bagi keluarga ini, momen tersebut bukan sekadar awal tahun ajaran baru, melainkan titik balik setelah salah satu anak mereka sempat putus sekolah akibat keterbatasan ekonomi.
Anak sulung Rudiansyah yang sebelumnya berhenti sekolah saat duduk di kelas V kini kembali melanjutkan pendidikan di kelas VI SD. Sementara dua adiknya juga diterima di Sekolah Rakyat, masing-masing di kelas III dan kelas I SD.
“Bagi kami ini seperti mimpi. Anak saya yang sempat berhenti sekolah sekarang bisa belajar lagi. Alhamdulillah, kami sangat bersyukur,” ujar Rudiansyah.
Sebagai buruh lepas, penghasilannya hanya cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi itu membuat biaya pendidikan anak-anaknya sulit dipenuhi hingga akhirnya mereka harus merasakan putus sekolah.
Harapan itu kembali hadir melalui program Sekolah Rakyat. Seluruh kebutuhan pendidikan, mulai dari biaya sekolah, asrama, makan, seragam, perlengkapan belajar, hingga kebutuhan sehari-hari ditanggung pemerintah.
“Terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo yang menghadirkan Sekolah Rakyat. Orang tua seperti kami akhirnya punya harapan agar anak-anak bisa kembali sekolah,” katanya.
Ia juga mengaku proses pendaftaran berjalan mudah karena mendapat pendampingan dari Dinas Sosial. Sesampainya di sekolah, ia semakin terharu melihat seluruh kebutuhan anak-anaknya telah disiapkan.
“Sebagai orang tua kami benar-benar bersyukur. Anak-anak tinggal fokus belajar,” ujarnya.
Meski harus merelakan ketiga anaknya tinggal di asrama, Rudiansyah yakin keputusan tersebut adalah jalan terbaik demi masa depan mereka.
“Ada rasa sedih karena berpisah, tetapi saya percaya mereka akan dibimbing dengan baik. Yang penting mereka bisa sekolah dan memiliki masa depan yang lebih baik,” tuturnya.
Di akhir pesannya, ia berharap ketiga anaknya memanfaatkan kesempatan itu sebaik mungkin.
“Saya hanya ingin mereka belajar sungguh-sungguh. Mudah-mudahan Sekolah Rakyat menjadi jalan untuk mengubah masa depan mereka,” katanya.
Angle: Kisah ini tidak hanya bercerita tentang dibukanya Sekolah Rakyat, tetapi tentang harapan yang kembali hadir bagi keluarga miskin. Fokusnya pada sisi human interest sehingga lebih menyentuh emosi pembaca.

















