PONTIANAK – Mikado Festival menawarkan pengalaman berbeda dari konser musik pada umumnya. Mengusung konsep Mimpi, Karya, Doa, festival yang dijadwalkan berlangsung pada 4 Desember 2026 di halaman Grand Mahkota Hotel Pontianak ini memadukan pertunjukan musik, permainan, seni visual, komedi, hingga kuliner dalam satu ruang kreatif.
Sebanyak 15 musisi dijadwalkan tampil di tiga panggung yang disiapkan penyelenggara. Mereka di antaranya Sal Priadi, Reality Club, 510, Las, Manjakani, Stromberry Blue, HOPE!, Underground Cartel, In Deck We Trust, Breakbeat Boys, DPR, Mouz, Lixxy, Dwiplo, dan New Starter.
Project Director Mikado Festival, Nanda Dwi Wahyudi, mengatakan festival ini dirancang agar pengunjung mendapatkan pengalaman yang lebih luas daripada sekadar menyaksikan penampilan musisi.
Menurutnya, daftar penampil memang menjadi salah satu daya tarik festival. Namun, Mikado ingin membangun identitas yang kuat melalui beragam aktivitas dan pengalaman yang ditawarkan kepada pengunjung.
“Line up memang menjadi salah satu daya tarik sebuah festival. Namun, kami ingin membangun identitas acara yang tetap kuat sekalipun menghadirkan penampil berbeda pada penyelenggaraan berikutnya,” ujarnya.
Program Director Mikado Festival, Tommy Utama Putra, menjelaskan bahwa konsep acara dibuat beragam agar pengunjung memiliki banyak pilihan aktivitas selama festival berlangsung.
Salah satunya melalui area playground yang menghadirkan permainan mahjong, fingerboard, hingga konsol gim. Area ini juga dilengkapi bean bag sebagai tempat bersantai. Menariknya, pengunjung dapat menikmati berbagai aktivitas di area tersebut secara gratis.
Mikado juga memberikan ruang bagi seniman visual untuk memamerkan karya, termasuk lukisan dan karya seni lainnya. Penyelenggara menargetkan sekitar lima seniman visual terlibat dalam festival tersebut, sekaligus membuka kesempatan bagi pengunjung untuk berinteraksi langsung dengan mereka.
Selain musik dan seni visual, pertunjukan stand-up comedy turut dihadirkan sebagai alternatif hiburan.
Di sektor kuliner, penyelenggara menggandeng Makanlok Budak untuk mengkurasi tenant makanan. Mikado secara khusus memusatkan area tenant pada sajian kuliner agar pengunjung memiliki pilihan makanan yang beragam selama menikmati festival.
“Konsep kurasi tersebut diharapkan memberikan pengalaman kuliner yang lebih beragam dan praktis bagi pengunjung,” kata Tommy, Selasa (3/11/2026).
Aspek lingkungan juga menjadi perhatian melalui kolaborasi dengan komunitas Siklus Bijak. Kerja sama ini mencakup pengelolaan sampah selama festival, mulai dari pengumpulan hingga pembahasan potensi pengolahannya setelah acara selesai.
Bagi penyelenggara, Mikado tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga ruang kolaborasi bagi komunitas, seniman, pelaku usaha, dan berbagai elemen industri kreatif di Pontianak.
Keterlibatan pelaku lokal turut menjadi perhatian, mulai dari vendor, pekerja, hingga komunitas yang terlibat dalam penyelenggaraan. Dengan demikian, festival ini diharapkan dapat memberikan dampak bagi ekosistem kreatif setempat.
Penyelenggara juga berupaya membangun kepercayaan publik di tengah tantangan kepercayaan terhadap penyelenggaraan konser dan festival. Salah satu langkahnya adalah membuka informasi mengenai perkembangan persiapan acara, termasuk proses pembayaran, produksi panggung, dan perizinan.
Kolaborasi dengan komunitas serta berbagai instansi juga dibuka untuk memperkuat pelaksanaan acara sekaligus memperluas keterlibatan berbagai pihak.
Ke depan, Nanda dan Tommy berharap Mikado dapat berkembang menjadi agenda tahunan di Pontianak. Mereka ingin pengunjung datang bukan hanya karena ingin menyaksikan musisi tertentu, melainkan juga karena tertarik pada suasana dan pengalaman khas yang ditawarkan.
Melalui perpaduan musik, permainan, seni, komedi, kuliner, dan kolaborasi komunitas, Mikado Festival berupaya menghadirkan ruang pertemuan kreatif yang inklusif sekaligus mendorong keberlanjutan ekosistem kreatif lokal.

















