Riset dilakukan di Desa Pedalaman, Desa Sebemban, dan Desa Tanjung Bunut.
Penelitian itu menyoroti dampak aktivitas pertambangan terhadap aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi masyarakat yang tinggal di sekitar area operasional PT Antam Tbk Unit Bisnis Pertambangan Bauksit Tayan dan PT Indonesia Chemical Alumina (ICA).
Anggota Tim Riset Link-Ar Borneo, Raden Deden Fajarullah, mengatakan keluhan yang paling banyak disampaikan warga berkaitan dengan kondisi sungai yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat.
“Yang paling banyak disampaikan masyarakat adalah lingkungan perlu segera diperbaiki dan pemerintah harus mengambil tindakan cepat agar tidak muncul dampak lanjutan seperti penyakit kulit atau gatal-gatal yang diduga akibat dampak lingkungan dari aktivitas PT ICA maupun PT Antam,” ujar Deden.
Menurutnya, masyarakat menilai langkah penanganan dari perusahaan lebih banyak dilakukan setelah muncul persoalan besar, sementara upaya pencegahan dan pemulihan lingkungan belum dilakukan secara berkelanjutan.
“Sejauh ini informasi yang kami dapat, ketika ada kejadian baru perusahaan mengambil tindakan. Di luar itu, belum ada inisiatif yang berkelanjutan untuk perbaikan tata kelola lingkungan,” katanya.
Selain itu, Link-Ar Borneo menilai pengawasan pemerintah terhadap aktivitas pertambangan masih perlu diperkuat.
Mereka mendorong adanya monitoring lapangan secara rutin agar potensi kerusakan lingkungan dapat dideteksi dan ditangani lebih dini.
“Kami berharap pemerintah melakukan monitoring setiap bulan dan evaluasi secara kontinu terhadap praktik pertambangan PT Antam maupun PT ICA sehingga dampaknya terhadap masyarakat bisa diketahui lebih awal,” tambahnya.
Dalam laporan risetnya, Link-Ar Borneo juga menyinggung insiden jebolnya tanggul milik PT Indonesia Chemical Alumina yang disebut terjadi pada 2013 dan kembali terulang pada 2023.
Menurut tim riset, peristiwa tersebut diduga berdampak terhadap kualitas air sungai yang dimanfaatkan masyarakat.
Sejumlah warga, kata Deden, mengaku mengalami gangguan kulit seperti gatal-gatal setelah bersentuhan dengan air sungai yang selama ini digunakan untuk berbagai aktivitas sehari-hari.
Atas temuan tersebut, Link-Ar Borneo menyerahkan sejumlah rekomendasi kepada Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalimantan Barat, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kalimantan Barat, DPRD Kalimantan Barat, serta pemerintah pusat dan pemerintah daerah agar meningkatkan pengawasan dan evaluasi terhadap aktivitas pertambangan di kawasan tersebut.
Hasil riset itu juga diserahkan secara simbolis kepada perwakilan DLH Kalimantan Barat di akhir konferensi pers.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan atau tanggapan resmi dari pihak PT Antam maupun PT Indonesia Chemical Alumina (ICA) terkait temuan dan dugaan yang disampaikan oleh Link-Ar Borneo.











