banner 468x60
Aksara Landak

Belajar Sambil Bermain, Mahasiswa KKM FISIP Untan Kenalkan Bahasa Inggris kepada Anak Desa Amboyo Inti Landak

×

Belajar Sambil Bermain, Mahasiswa KKM FISIP Untan Kenalkan Bahasa Inggris kepada Anak Desa Amboyo Inti Landak

Sebarkan artikel ini

LANDAK – Setiap hari Rabu, Kamis dan Jumat, suasana sore di Balai Dusun Gasing, Desa Amboyo Inti, Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, tampak berbeda dari biasanya.

Para anak sekolah dasar berkumpul mengikuti pembelajaran bahasa Inggris yang digelar mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) FISIP Universitas Tanjungpura (Untan) Kelompok 13.

Bukan suasana kelas yang kaku. Anak-anak diajak belajar sambil bermain dengan materi yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Kegiatan tersebut menjadi salah satu program KKM untuk mendorong peningkatan literasi anak, khususnya dalam mengenalkan bahasa asing sejak usia dini.

Ketua Kelompok 13 KKM FISIP Untan 2026, Yovinus Feriyanto, mengatakan ide pembelajaran bahasa Inggris itu muncul setelah mahasiswa berdiskusi dengan pihak sekolah di Desa Amboyo Inti.

“Dari pertemuan itu disampaikan bahwa memang literasi anak-anak di situ masih kurang. Dari situ kami berpikir apa yang bisa dilakukan, kemudian kami memilih literasi bahasa Inggris dengan target anak-anak SD,” kata Yovinus. Jumat, 14 Agustus 2026.

Menurut Yovinus, keterbatasan waktu selama pelaksanaan KKM tidak menyurutkan semangat mahasiswa untuk memberikan pembelajaran yang dapat meninggalkan pengalaman positif bagi anak-anak.

Karena itu, metode pembelajaran dibuat menyenangkan dan disesuaikan dengan usia serta kemampuan peserta.

“Untuk metode belajarnya kami menyesuaikan. Anak-anak SD kami berikan materi yang lebih sederhana, sambil menyelipkan literasi yang simpel. Intinya dibuat fun supaya anak-anak belajar dengan seru,” ujarnya.

Dari 30 Anak Menjadi Puluhan Peserta

Antusiasme anak-anak mengikuti kegiatan tersebut justru terus bertambah. Pada awal kegiatan, peserta yang hadir sekitar 30 anak. Jumlah itu kemudian meningkat menjadi sekitar 40 anak, selanjutnya mencapai sekitar 80 hingga 90 anak.

Materi pembelajaran dimulai dari hal-hal paling dasar. Pada pertemuan awal, mahasiswa mengenalkan introduction, alfabet atau A-B-C-D, kata sapaan, hingga kata kerja sederhana.

Sementara untuk siswa kelas 5 dan 6, materi mulai diarahkan pada penggunaan kata kerja dan kosakata yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan mereka.

“Kami tidak langsung memberikan materi yang rumit. Simpel-simpel saja. Karena dalam bahasa Inggris, apa yang sering kita gunakan itu yang akan kita ingat,” jelas Yovinus.

Pembelajaran digelar dalam sembilan kali pertemuan, yakni pada 29, 30 dan 31 Juli, kemudian 5, 6, 7, 12, 13 dan 14 Agustus 2026.
Kegiatan berlangsung setiap Rabu, Kamis dan Jumat mulai pukul 15.00 WIB di Balai Dusun.

Pada Jumat, 14 Agustus 2026, rangkaian pembelajaran bahasa Inggris tersebut akan ditutup dengan pembagian sertifikat kepada anak-anak yang dinilai aktif dan rajin mengikuti kegiatan.

Bagi mahasiswa, respons masyarakat menjadi salah satu indikator bahwa kegiatan tersebut diterima dengan baik.

Yovinus mengaku sejumlah orang tua bahkan menyampaikan apresiasi secara langsung kepada mahasiswa ketika bertemu di luar kegiatan.

“Ketika kami bertemu orang tua, misalnya di Indomaret, mereka bilang, ‘Makasih ya Dek sudah mengajari anak-anak kami’. Itu menjadi salah satu hasil yang kami lihat,” tuturnya.

Tak Hanya Mengajar Bahasa Inggris

Pembelajaran bahasa Inggris bukan satu-satunya kegiatan yang dilakukan mahasiswa KKM FISIP Untan di Desa Amboyo Inti.

Dua kelompok mahasiswa yang ditugaskan di desa tersebut juga menjalankan sejumlah program lain yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat serta tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

Di antaranya pembuatan peta desa untuk membantu administrasi pemerintah desa, seminar pendidikan politik dasar bagi siswa SMA, seminar penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), pelatihan membuat gantungan kunci dari kawat bulu bagi anak-anak SD, piket di kantor desa, hingga penanaman bibit cabai.

Seminar pendidikan politik dasar diberikan kepada siswa SMA Makedonia. Sementara edukasi mengenai penggunaan AI diberikan kepada siswa SMP melalui seminar deep porn.

“AI sekarang semakin berkembang. Anak-anak perlu diedukasi bagaimana menggunakan AI dengan baik supaya tidak salah dalam pemanfaatannya,” kata Yovinus.

Program-program tersebut disusun dengan mengacu pada sejumlah tujuan dalam SDGs. Penanaman bibit cabai, misalnya, diarahkan untuk mendukung SDGs nomor 2 tentang tanpa kelaparan dan ketahanan pangan. Bibit tersebut rencananya diserahkan kepada masyarakat pada 19 Agustus 2026.

Adapun kegiatan pendidikan, termasuk pembelajaran bahasa Inggris dan pelatihan keterampilan, berkaitan dengan SDGs nomor 4 tentang pendidikan berkualitas.

Sementara seminar pendidikan politik dan edukasi penggunaan AI dikaitkan dengan SDGs nomor 16 tentang perdamaian, keadilan dan kelembagaan yang tangguh.

“Intinya kami menyesuaikan program dengan SDGs yang menjadi arahan dari kampus, tetapi tidak menutup kemungkinan melakukan kegiatan lain sesuai kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Belajar dari Masyarakat

KKM FISIP Untan di Desa Amboyo Inti terdiri dari Kelompok 13 dan 14. Masing-masing kelompok beranggotakan 12 mahasiswa.
Pelaksanaan KKM secara resmi dimulai melalui pembukaan di Kantor Bupati Landak pada 21 Juli 2026.

Mahasiswa dijadwalkan menyelesaikan kegiatan dan ditarik pada 20 Agustus 2026, kemudian kembali ke Pontianak pada 21 Agustus 2026.

Bagi Yovinus, keberadaan mahasiswa selama hampir satu bulan di Desa Amboyo Inti bukan hanya tentang menjalankan program kerja.

Ada proses belajar yang juga dirasakan mahasiswa ketika berinteraksi langsung dengan masyarakat.

Ia berharap program yang dijalankan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, anak-anak, orang tua, maupun pemerintah desa.

“Kami berharap apa yang kami lakukan ini bisa membekas di masyarakat, khususnya di Amboyo Inti, baik bagi masyarakat, anak-anak maupun orang tua,” katanya.

Menurut Yovinus, pengalaman terjun langsung ke masyarakat juga menjadi bagian penting dari pendidikan mahasiswa FISIP.

“FISIP itu laboratorium kita adalah masyarakat. Jadi kami bisa melihat bagaimana kondisi di lapangan dan apa yang bisa kami kembangkan dari desa tersebut,” pungkasnya.