Aksaraloka.com, SINTANG – Pemadaman listrik bergilir yang masih melanda Kabupaten Sintang kini memunculkan kekhawatiran serius di sektor kesehatan. Manajemen RSUD Ade M. Djoen Sintang meminta PLN memberikan perlakuan khusus dengan tidak melakukan pemadaman listrik di kawasan rumah sakit, mengingat stabilitas pasokan listrik sangat menentukan keselamatan pasien.
Direktur RSUD Ade M. Djoen Sintang, dr. Bagus Zodiak Adibrata, menegaskan listrik bukan sekadar penunjang operasional, melainkan kebutuhan vital yang menopang seluruh layanan medis, terutama saat tindakan operasi dan penanganan pasien dalam kondisi kritis.

“Kami sangat khawatir apabila pemadaman terjadi saat tindakan operasi atau pelayanan medis sedang berlangsung. Kondisi seperti itu tentu sangat berisiko. Karena itu kami berharap PLN dapat mengupayakan agar area RSUD Ade M. Djoen Sintang tidak menjadi lokasi pemadaman listrik,” ujarnya, Selasa (7/7/2026).
Menurut Bagus, meski rumah sakit telah menyiapkan dua unit generator set (genset) sebagai sumber listrik cadangan, hampir seluruh sistem pelayanan kesehatan tetap bergantung pada pasokan listrik dari PLN.
Ia menjelaskan, listrik menjadi “nyawa” bagi berbagai layanan penting di rumah sakit, mulai dari ruang operasi, Instalasi Gawat Darurat (IGD), ruang Intensive Care Unit (ICU), laboratorium, radiologi, instalasi farmasi, hingga berbagai peralatan medis berteknologi tinggi yang harus beroperasi tanpa henti.
“Genset memang selalu siap digunakan sebagai langkah antisipasi. Namun itu hanya solusi darurat. Pada dasarnya seluruh pelayanan rumah sakit sangat bergantung pada pasokan listrik dari PLN,” jelasnya.
Tak hanya mengganggu pelayanan medis, seringnya penggunaan genset juga berdampak pada meningkatnya konsumsi bahan bakar minyak (BBM). Bagus mengungkapkan, hingga kini rumah sakit belum memiliki alokasi anggaran khusus untuk menutup lonjakan kebutuhan BBM akibat pemadaman listrik yang berulang.

“Belum ada anggaran khusus untuk penambahan kuota BBM genset. Namun apabila kebutuhan meningkat demi menjaga pelayanan kepada masyarakat, tentu akan kami pertanggungjawabkan melalui mekanisme administrasi dan SPJ sesuai ketentuan yang berlaku,” katanya.
Meski menghadapi tantangan tersebut, RSUD Ade M. Djoen Sintang memastikan seluruh tenaga kesehatan tetap berkomitmen memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
Bagus berharap PLN dapat menjadikan rumah sakit sebagai objek vital yang diprioritaskan dalam menjaga kontinuitas pasokan listrik. Menurutnya, pelayanan kesehatan tidak boleh terganggu karena setiap detik sangat berarti bagi keselamatan pasien.

“Pelayanan kesehatan adalah pelayanan dasar. Rumah sakit tidak boleh kehilangan pasokan listrik dalam waktu lama karena menyangkut keselamatan nyawa pasien. Kami berharap PLN dapat menjaga agar listrik di rumah sakit tetap menyala sehingga masyarakat yang membutuhkan layanan medis, terutama dalam kondisi darurat, tetap memperoleh pelayanan secara maksimal,” tegasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak PLN ULP Sintang belum memberikan keterangan resmi terkait permintaan RSUD Ade M. Djoen Sintang maupun jadwal pemadaman listrik bergilir yang masih menjadi keluhan masyarakat.

Di tengah kondisi pasokan listrik yang belum stabil, harapan terbesar masyarakat kini tertuju pada langkah cepat PLN untuk memastikan fasilitas kesehatan tetap mendapatkan pasokan listrik yang andal. Sebab, bagi rumah sakit, listrik bukan sekadar penerangan, melainkan penopang utama layanan yang menyangkut keselamatan dan nyawa manusia.











