banner 468x60
Kalimantan Barat

BMKG Ungkap 25.000 Hotspot Terdeteksi di Kalbar pada Agustus, Ketapang Jadi Wilayah dengan Titik Panas Terbesar

×

BMKG Ungkap 25.000 Hotspot Terdeteksi di Kalbar pada Agustus, Ketapang Jadi Wilayah dengan Titik Panas Terbesar

Sebarkan artikel ini

Aksaraloka.com, PONTIANAK – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Supadio mengungkapkan peningkatan signifikan titik panas atau hotspot di Kalimantan Barat seiring memasuki fase musim kemarau dan menguatnya fenomena El Nino.

Koordinator Data dan Informasi (DATIN) dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) BMKG Supadio, Sutikno, mengatakan berdasarkan pembaruan data hingga 13 Agustus 2026, terdapat sekitar 25.000 hotspot yang terpantau sepanjang Agustus.

“Terakhir update tanggal 13 Agustus 2026 itu tercatat ada sekitar 25.000 hotspot di bulan Agustus saja. Artinya, rata-rata harian kita mencapai hampir 2.000 hotspot yang terpantau,” kata Sutikno.

Namun, Sutikno menegaskan jumlah tersebut tidak serta-merta menunjukkan jumlah titik api atau kebakaran yang terjadi di lapangan.

Menurut dia, masyarakat dan pemangku kepentingan perlu membedakan istilah hotspot dengan fire spot.

Sebab, hotspot merupakan titik panas yang terdeteksi melalui satelit, sedangkan fire spot merupakan titik yang telah terkonfirmasi sebagai lokasi kebakaran.

“Bedakan antara hotspot dengan fire spot. Kalau fire spot itu sudah pasti hotspot, tetapi kalau hotspot itu belum tentu fire spot,” ujarnya.

Sutikno menjelaskan, satelit mendeteksi adanya anomali panas di permukaan bumi. Karena itu, sumber panas tidak selalu berasal dari kebakaran hutan dan lahan.

Panas yang berasal dari aktivitas manusia, seperti pembakaran sampah maupun sumber panas dari cerobong industri, juga berpotensi terdeteksi sebagai hotspot.

Untuk mengurangi kesalahan dalam menentukan titik kebakaran, BMKG memberikan informasi berdasarkan tingkat kepercayaan atau confidence level.

“Hotspot itu dipantau melalui satelit dan memiliki tingkat-tingkat kepercayaan. Kita berusaha memilah, makanya ada operasi udara,” jelasnya.

Menurut Sutikno, hotspot dengan tingkat kepercayaan rendah memiliki kemungkinan lebih kecil untuk menjadi titik kebakaran yang terkonfirmasi.

Sementara titik dengan tingkat kepercayaan menengah hingga tinggi menjadi perhatian utama dalam penanganan karhutla.

“Yang kategori tinggi itu yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi. Biasanya yang akan terbakar atau yang sudah terbakar dalam kondisi yang kecil,” katanya.

Sutikno menyebut tingkat kebenaran deteksi fire spot berada di atas 90 persen. Sementara hotspot secara umum memiliki peluang sekitar 70-80 persen untuk mengindikasikan adanya titik api, tergantung kondisi pengamatan satelit.

“Kalau fire spot itu di atas 90 persen. Kalau hotspot sekitar 70 sampai 80 persen akan berpotensi seperti itu,” ungkapnya.

Namun, angka tersebut tidak dapat dilepaskan dari kondisi atmosfer saat satelit melakukan pengamatan.

Salah satu kendala dalam pemantauan melalui satelit adalah tutupan awan dan asap. Ketika wilayah tertutup awan atau asap tebal, satelit tidak dapat melakukan pemantauan secara optimal.

“Kalau satelit tertutup awan, tertutup asap juga dia tidak akan bisa memantau secara full. Kalau cuacanya benar-benar cerah, dia bisa memantau secara full,” kata Sutikno.

Karena itu, menurut dia, pemilahan antara hotspot dengan tingkat kepercayaan menengah dan tinggi menjadi sangat penting.

Ketapang Kini Jadi Wilayah dengan Hotspot Terbesar
Sutikno mengatakan distribusi hotspot di Kalimantan Barat mengalami perubahan sepanjang tahun.

Pada awal 2026, Kabupaten Kubu Raya sempat menjadi wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi. Namun, memasuki puncak musim kemarau, posisi tersebut bergeser.

Saat ini, Kabupaten Ketapang menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbesar di Kalimantan Barat.

“Yang tadinya Kubu Raya di tingkat pertama di awal-awal tahun, tapi sekarang Ketapang,” ujarnya.

Selain Ketapang, wilayah lain yang menjadi perhatian antara lain Sanggau, Kayong Utara, Landak, Kapuas Hulu dan Kubu Raya.

Kubu Raya yang sebelumnya berada di posisi pertama kini berada di sekitar peringkat keenam berdasarkan perkembangan data yang dipantau BMKG.

Perubahan tersebut tidak terlepas dari karakteristik cuaca di wilayah Ketapang, khususnya bagian tengah hingga selatan.

Sutikno mengatakan pola musim kemarau di wilayah tersebut memiliki karakteristik yang lebih mirip dengan wilayah Jawa dibandingkan sebagian wilayah Kalimantan Barat lainnya.

“Wilayah Ketapang terutama bagian tengah hingga selatan itu pola cuacanya hampir sama seperti di Jawa. Ketika di Jawa masih kemarau, dia akan kemarau,” katanya.

Berdasarkan pembaruan perakiraan musim BMKG pada Juni 2026, puncak kemarau di sejumlah wilayah diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September.