banner 468x60
Lingkungan

Peringatan Hari Lingkungan Hidup, Zulhas : Pengelolaan Sampah Yang Baik Menjawab Tantangan Triple Planetary Crisis

×

Peringatan Hari Lingkungan Hidup, Zulhas : Pengelolaan Sampah Yang Baik Menjawab Tantangan Triple Planetary Crisis

Sebarkan artikel ini

Aksaraloka.com, PONTIANAK – Pengelolaan sampah yang baik menjadi salah satu kunci utama dalam menjawab tantangan tiga krisis lingkungan global atau Triple Planetary Crisis.

Hal tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, saat berdialog dengan wartawan pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Pontianak, Jumat (5/6/2026).

Menurut Zulkifli Hasan, persoalan sampah saat ini tidak lagi sekadar berkaitan dengan kebersihan lingkungan, tetapi telah menjadi isu strategis yang berhubungan langsung dengan perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, serta polusi dan limbah.

“Ketiga krisis tersebut saling berkaitan dan telah menimbulkan dampak yang semakin kompleks terhadap aspek sosial, ekonomi, kesehatan, hingga lingkungan,” ujarnya.

Dalam konteks Indonesia, pengelolaan sampah menjadi titik temu paling nyata dari berbagai persoalan lingkungan tersebut.

Sampah dinilai memengaruhi pencapaian target pembangunan nasional, komitmen pengurangan emisi karbon, perlindungan ekosistem, kualitas hidup masyarakat, hingga ketahanan pangan nasional.

Data menunjukkan Indonesia menghasilkan sekitar 60 juta ton sampah setiap tahun, dengan kontribusi terbesar berasal dari kawasan perkotaan.

Namun, sebagian besar timbulan sampah tersebut masih belum terkelola secara optimal sehingga menjadi tantangan lingkungan yang mendesak untuk segera ditangani.

Sebagai langkah konkret, pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Pangan terus mempercepat pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di sejumlah daerah prioritas sesuai amanat Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025.

Saat ini, sekitar 30 lokasi PSEL direncanakan akan dikembangkan dalam beberapa tahun mendatang, terutama di kawasan perkotaan dan aglomerasi yang menghasilkan lebih dari 1.000 ton sampah per hari.

“Dalam waktu dekat, tiga lokasi PSEL akan segera memasuki tahap groundbreaking. Selanjutnya, 12 lokasi lainnya tengah diproses oleh Danantara untuk memasuki fase pemilihan mitra dengan target mulai beroperasi pada tahun 2028,” jelas Zulhas.

Program PSEL tersebut merupakan bagian dari transformasi besar pengelolaan sampah nasional.

Selain mengurangi ketergantungan pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA), fasilitas ini juga diharapkan mampu menghasilkan energi listrik terbarukan sekaligus menekan emisi karbon.

Tak hanya itu, pemerintah juga terus mendorong pengembangan berbagai teknologi pengolahan sampah lainnya, seperti Refuse Derived Fuel (RDF), komposting, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), hingga teknologi pirolisis yang disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing daerah.

Menutup keterangannya, Zulhas menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat kebijakan yang mendukung transformasi pengelolaan sampah nasional.

Ia juga mengajak seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, akademisi, hingga masyarakat, untuk memperkuat kolaborasi dalam menjaga lingkungan hidup demi keberlanjutan dan masa depan pangan Indonesia.

“Menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi menjadi tugas bersama untuk memastikan masa depan bangsa yang lebih baik,” pungkasnya.